Gadis Kecil yang Menggambar Telaga

Kota Asal Pengiriman : Kabupaten Sleman

Rp57.200,00

Judul Buku: Gadis Kecil yang Menggambar Telaga
Kategori: Kumpulan Puisi
Penulis : Dwi Rahariyoso (@dwirahariyoso)
Penerbit: Kobuku
Cetakan Pertama: Juli 2020
Dimensi: X+142 hlm., 13cm x 19cm, soft cover
ISBN: 978-602-53894-7-4

Kategori:

Deskripsi

Seratus sembilan (109) puisi dalam buku ini menyiratkan tempaan proses panjang kepenyairan Dwi Rahariyoso sejak tahun 2004. Pergulatan pemikiran, batin, serta pencarian estetis—menjadi nyala yang berkobar dalam puisi-puisi Rahariyoso. Nyala-nyala itu tampaknya banyak dipantik oleh kesadaran (atau kegelisahan?) penyair atas ruang dan waktu.

Pandangan penyair terhadap ruang dan waktu dapat ditemukan, misalnya, dalam caranya merespons kampung, kota, stasiun, laut, pantai, padang rumput, hingga hujan, magrib, dan Mei. Hampir senantiasa ada kesunyian dan keterasingan di sana. Seolah penyair adalah pengembara yang bergerak dari suatu kesunyian ke kesunyian yang lain, dari satu keterasingan ke keterasingan yang lain.

Kesunyian-keterasingan itu bukan semata-mata dihadirkan sebagai ketidakberdayaan manusia memikul kecemasannya masing-masing, tapi lebih dari itu—kesunyian dan keterasingan dihadirkan sebagai sumber kontempelasi manusia yang terus-menerus berupaya memahami kehidupan, dan oleh karena itu juga berupaya memahami batasan dunia kehidupan: dunia kematian. Manusia hidup dalam bayang-bayang kematian.  Ruang yang sunyi, waktu yang asing, penuh misteri. Dan penyair telah membunyikan kesunyian itu, mengakrabkan keterasingan itu dengan kekuatan kata-katanya. Di sini batasan antara kehidupan dan kematian pun jadi tampak mencair: apakah manusia mati dalam kehidupan atau hidup dalam kematian?

Dalam puisi-puisi Raharioyoso, kegelisahan primordial manusia tentang kehidupan-kematian ditempatkan dalam konteks sosial masyarakat modern. Menariknya, “kota” dan “kampung”, misalnya, keduanya tidak ditampilkan sebagai dua hal yang oposisional sebagaimana yang sering kali diwacanakan. Begitu juga antara “alam” dan “budaya”. Baik alam, budaya, kota, kampung dalam puisi-puisi Rahariyoso—umumnya dihadirkan sebagai ruang yang sama-sama memberi citra kesunyian-keterasingan bagi manusia, yang selanjutnya menyediakan konsepsi tentang “kematian”. Tentu saja dalam hal ini “kematian” tidak harus melulu dimaknai sebagai kematian yang fisik, tetapi bisa saja merujuk pada kematian batin, pikiran, proses, dan sebagainya—tergantung penafsiran tiap-tiap pembaca.

Melalui sekumpulan puisi ini, kita dapat menikmati kelincahan penyair dalam berbahasa, keunikan cara pandangnya, kritik sosial yang disamarkan dengan estetika, kemanusiaan, perubahan persepsi, hingga perenungan-perenungan yang bersifat spiritual. Selanjutnya, selamat membaca!

Spesifikasi

Berat 1 kg
Ukuran 13 × 0.8 × 19 cm
Genre

,

Penerbit

Penulis

Tebal

X+142