Kastagila dan 16 Cerita Lainnya

Kota Asal Pengiriman : Kabupaten Sleman

Rp35.000,00

“Kubocorkan sesuatu, dengarlah. Bahwa sesungguhnya ada dua jenis orang gila. Yang pertama gila tulen, dan yang kedua gila gadungan.

Cukup mudah membedakannya. Tentu ini berkat pengalaman dan keseharianku sebagai orang gila. Orang gila gadungan beda baunya, dekilnya tanggung, dan tatapannya penuh muslihat. Di antara puluhan orang gila yang kutemui, kuhitung cuma tiga yang gila sungguhan. Lainnya gadungan, termasuk kau!”

Deskripsi

“Kegilaan” tampaknya menjadi tema yang dieksplorasi di tujuh belas cerpen di sini. Menariknya, kegilaan tidak hanya ditampilkan sebagai persoalan psikologis. Kegilaan di sini justru lebih banyak disajikan sebagai persoalan yang lebih luas dan kompleks: persoalan sosial-budaya-spiritual.

“Kubocorkan sesuatu, dengarlah. Bahwa sesungguhnya ada dua jenis orang gila. Yang pertama gila tulen, dan yang kedua gila gadungan.

Cukup mudah membedakannya. Tentu ini berkat pengalaman dan keseharianku sebagai orang gila. Orang gila gadungan beda baunya, dekilnya tanggung, dan tatapannya penuh muslihat. Di antara puluhan orang gila yang kutemui, kuhitung cuma tiga yang gila sungguhan. Lainnya gadungan, termasuk kau!”

Di cerpen “Kastagila”, kegilaan ditampilkan agak eksplisit, ditandai dengan cukup jelas melalui nama tokoh ceritanya (Kastagila). Kastagila hidup sebagai anggota komunitas terselubung yang berisi orang-orang gila gadungan. Dengan menjadi gila, Kastagila membebaskan dirinya dari aturan-aturan sosial, hukum, maupun agama. Komunitas orang-orang gila ini bekerja dengan sangat rahasia, terorganisir, dan solider. Mereka berbagi tanpa saling mengenal nama. Tujuan komunitas ini sederhana: bertahan hidup, bersaudara, dan menjaga rahasia. Dengan nada satire, cerita ini mengguncang kestabilan anggapan umum terhadap orang gila.

Ada juga cerita “Perempuan yang Berjalan di Atas Air” tentang kegilaan Aira—seorang perempuan yang di satu sisi ingin menjaga kesuciannya dan di sisi lain ingin memiliki anak. Pergesekan antara keyakinan dan hasrat Aira, kemudian terwujud di dalam dunia mimpi. Ia dapat melanjutkan mimpi-mimpinya, dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun. Aira pun lantas mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya di dalam mimpi. Lalu, sebagaimana petunjuk di dalam mimpinya, Aira akhirnya mencari “anak-mimpinya” itu di dunia nyata.

Waktu telah membuat Aira semakin mencintai anak mimpinya. Menyusui, menyuapi, dan mengganti popok anaknya: begitulah yang ia lakukan setiap kembali dalam mimpi. Ia baru akan rela bangun jika si Anak telah tertidur nyenyak.” (“Perempuan yang Berjalan di Atas Air, hal. 100)

“Orang-orang gila” di kumpulan cerpen ini umumnya merepresentasikan orang-orang yang “terpinggirkan” dari masyarakat seperti: pengidap skizofrenia, seorang pengkhianat, pemabuk, dukun, pemulung, pedagang kaki lima, pencuri, preman kampung, dan keluarga inses. Dan cerpen-cerpen di sini memberi tempat bagi orang-orang yang “jarang dilihat” peran dan keberadaannya dalam masyarakat tersebut. Mereka diceritakan, dihadirkan, diberi suara, tetapi tidak untuk dinilai secara normatif, tetapi untuk ditampilkan dalam cara dan sudut pandang yang unik, yang kritis, yang sangat jarang ditemukan dalam pandangan orang kebanyakan. Selain itu, cerita-cerita di sini juga menyuarakan tokoh-tokoh cerita yang “nyeleneh”. Kita bisa menemukannya dalam cerpen “Lungsuran” (penceritanya ialah baju seragam); “Anjing Kebiri” (penceritanya ialah seekor Anjing); “Freniya yang Ganjil” (salah satu penceritanya seorang pengidap skizofrenia); “Tokoh Cerita Dalam Kematian” (salah satu penceritanya ialah orang yang mengalami mati suri); “Kematian Si Topi Merah” (salah satu penceritanya ialah arwah seekor ayam).

Cerita-cerita di dalam kumpulan cerpen ini tidak hanya berisi tema-tema yang gila dan mengejutkan, tetapi juga diceritakan dengan teknik bercerita yang sama gilanya, penuh eksperimen. Di cerpen “Perempuan yang Berjalan di Atas Air”, alurnya siklikal, berputar, sehingga seolah-olah tidak ada awal dan akhir, atau sebaliknya: seolah-olah semua bisa jadi awal, semua bisa jadi akhir. Cerita ini membuka begitu banyak kemungkinan cerita dan maknanya sendiri.

Ada cerpen yang dibawakan dengan sudut pandang orang kedua yang memposisikan pembaca seolah-olah ikut terlibat langsung di dalam cerita (“Kastagila” dan “Anjing Kebiri”). Ada pula cerpen yang diceritakan dengan berbagai pergantian sudut pandang (“Kematian si Topi Merah”, “Pohon Sedarah”, “Freniya yang Ganjil”, “Sebuah Kado Sisa-Sisa”, “Perempuan Maut”, dan “Tokoh Cerita Dalam Kematian”). Selain itu, susunan kata maupun kalimat di kumpulan cerpen ini memang kurang pas jika dibilang puitis, meskipun demikian, terasa sangat kental iramanya, temponya, seperti nada-nada dalam komposisi musik.

Secara umum, dari segi bahasa dan tema, cerita-cerita dalam Kastagila dan 16 Cerita Lainnya memang terbilang agak berat. Hampir semua komponen berfungsi di dalam cerita, hampir tidak ada yang mubadzir. Jika satu “penanda” terlewatkan dibaca, maka Anda kemungkinan akan bingung atau mengernyitkan dahi. Cerita-cerita di sini tampaknya termasuk tipe cerita yang tidak cukup dibaca satu kali. Bahkan, Anda barangkali akan menemukan hal-hal baru atau makna yang berbeda setelah lebih dari satu kali membacanya.

Daya tawar Kastagila dan 16 Cerita Lainnya juga terletak pada twist-ending-nya. Tentu saja twist-ending tidak akan dibongkar di sini. Silakan Anda temukan dan nikmati sensasi ketika dikejutkan oleh ending yang berada di luar ekspektasi Anda. Selamat membaca.

Spesifikasi

Berat 0.264 kg
Ukuran 11.5 × 17.5 cm
Penulis

Penerbit

Genre

,

Tebal

176 halaman