Oleh: Susana Febryanty

Sebuah pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela kehidupan. Dengan membaca sebuah buku kita bisa memperoleh banyak manfaat. Namun sayang, membaca buku sepertinya belum menjadi sebuah kegiatan yang menarik minat masyarakat kita. Apa yang menjadi penyebabnya? Lalu, bagaimana cara kita menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku?

Membaca buku tak hanya memberi tambahan pengetahuan. Ternyata kegiatan membaca buku juga memberikan banyak manfaat bagi pekembangan seorang anak. Pada tahun 1958-1964, seorang peneliti bernama Doleres Durkin menyimpulkan bahwa anak-anak yang bisa membaca sejak dini ternyata senantiasa mampu mengguli kemampuan membaca anak-anak yang terlambat belajar membaca hingga usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemampuan membaca tersebut menurut Durkin tidak berhubungan dengan tingat inteligensi anak, namun sangat berhubungan dengan suasana rumah dan keluarganya.

Meski bermanfaat, kegiatan membaca sepertinya belum menjadi bagian dari hobi yang diminati oleh masyarakat. Hal tersebut dibuktikan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)  pada tahun 2013. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh UNESCO tersebut ditemukan bahwa hanya satu orang dari 1000 orang yang suka membaca. Bahkan  dari sebuah survei minat baca yang dilakukan oleh The Programme for International Student Assessment (PISA) menemukan bahwa Indonesia menduduki peringkat dua terbawah dari 65 negara. Selain itu, survei tersebut juga menunjukkan kemampuan pelajar Indonesia dalam kemampuan matematika dan sains yang jauh tertinggal dibandingkan beberapa negara yang terlibat dalam survei tersebut.

Kalah Populer

Pada kenyataannya, tak dapat dinafikan begitu saja betapa rendahnya minat baca para pelajar kita. Karena jika persoalan ini dibiarkan berlarut-larut, tentunya akan berpengaruh pada kualitas kaum muda kita. Bukan tak mungkin, bahwa bangsa ini akan semakin tertinggal jauh dari negara lain akibat dari masyarakat yang tak mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dunia. Maka sudah sewajarnya bila persoalan minat baca ini perlu menjadi perhatian semua pihak.

Sebelum menuntaskan persoalan, akan lebih bijaksana jika kita menelaah terlebih dahulu pada hal-hal yang melatar belakangi rendahnya minat baca. Salah satu yang terpenting ialah faktor kebiasaan yang didapatkan anak dari lingkungan keluarga. Dimana banyak orangtua yang tidak membiasakan membaca buku sebagai bagian dari budaya kehidupan keluarganya. Orangtua yang terbiasa membaca pastinya akan memberikan dampak yang positif bagi anak untuk mengikuti kebiasaan tersebut. Maka wajar pula seorang anak anak tak dapat akrab dengan buku jika kesehariannya  dalam keluarga tak terbiasa bersentuhan dengan buku.

Budaya menonton TV yang diterapkan oleh banyak keluarga di Indonesia mampu menjauhkan anak dari buku. Dari data yang diperoleh Badan Pusat Statistik (BPS) ditemukan bahwa rata-rata anak Indonesia menghabiskan waktu hingga 300 menit per hari untuk menonton TV. Ditambah lagi perkembangan teknologi yang demikian pesat turut pula mempengaruhi gaya hidup anak-anak di perkotaan. Godaan  permainan pada telepon pintar lebih menarik hati anak untuk bermain. Alhasil anak betah berjam-jam hanya untuk bermain gajet atau berselancar di internet. Jika sudah demikian, masih adakah waktu mereka tersisa untuk bersentuhan dengan buku?

Namun di lain pihak, ada pula keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Kurangnya ketersediaan buku murah membuat mereka terpaksa hanrus mengenyampingkan biaya pembelian buku demi memenuhi kebutuhan hidup yang lain. Keberadaan perpustakaan  yang masih sangat terbatas membuat beberapa anak di pelosok negeri mengalami kesulitan untuk mengakses buku. Bahkan dari sebuah penelitian yang dilakukan di tahun 2006 diketahui bahwa tidak semua sekolah mempunya perpustakaan. Selain itu,  koleksi buku yang dimiliki oleh berbagai perpustakaan di sekolah negeri dan swasta berjumlah terbatas sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh siswa.

Anak membaca buku

Sinergi Berkelanjutan

Guna mendorong minat baca masyarakat secara khusus pada golongan pelajar,  Pemerintah melalui Kemendikbud beberapa waktu yang lalu mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang merupakan salah satu strategi untuk mengembangkan masyarakat gemar membaca. Untuk mensukseskan program tersebut dibuatlah aturan untuk mewajibkan para siswa di seluruh Indonesia untuk membaca buku minimal 10 menit setiap hari.

Gerakan Indonesia Membaca tersebut patut disambut baik oleh semua pihak. Keberadaan program tersebut setidaknya memberikan secercah harapan akan peningkatan kualitas pelajar kita. Pada awalnya mungkin tak mudah untuk dilakukan namun akan lebih baik untuk mencoba sebuah langkan kecil daripada hanya pasrah dan berdiam diri saja.

Sekolah sebagai lembaga yang pendidikan bagi kaum muda wajib untuk memberikan fasilitas terbaiknya. Adanya kebijaksanaan secara nasional, yang didukung pula oleh pemerintah daerah mengenai program pengembangan Perpustakaan Sekolah, secara khusus berkaitan dengan pengadaan sarana dan  prasarana perpustakaan yang memadai, kiranya dapat dijadikan pertimbangan bagi para kepala sekolah untuk memberikan fasilitas perpustakaan bagi siswanya. Hendaknya setiap perpustakaan sekolah mampu menyiapkan para pustakawan yang memiliki kecintaan pada anak sehingga mampu menarik hati anak untuk berkunjung bahkan betah berlama-lama di tempat itu.

Orangtua sebagai guru pertama bagi anak wajib berpartisipasi dalam meningkatkan minat baca. Keluarga harus memberi dukungan pada kegiatan membaca anak. Keterlibatan orangtua dalam kegiatan membaca anak juga dapat menumbuhkan rasa cinta anak pada buku. Dengan membaca bersama anak, orangtua dapat memantau perkembangan kemampuan membaca anak. Selain itu, hubungan anak dan orangtua akan terjalin semakin erat melalui kegiatan membaca bersama anak.

Kategori: Artikel