Pagi tidak selalu dimulai saat fajar rekah buatku, entah buat Anda. Sore itu senja menua dan tirai malam mengendap pekat, hari baru dimulai. Selamat pagi semesta. Selamat pagi kawan. Selamat pagi, Bung. Udara pagi rasanya sesak, tahun politik, tahun pemilu membawa timbel polusi yang membuat udara tidak nyaman. Kebencian dan kemarahan bersenyawa dengan partikel udara menyusup dalam paru-paru tanpa bisa dicegah. Juragan kompor dengan bahan bakar kebencian, etnis, agama keluar masuk kampung menawarkan dagangan mempertebal polusi udara. Di media sosial lebih runyam, pertempuran sudah terjadi jauh sebelum genderang perang dibunyikan. Dengan senjata mesin –dan orang yang dimesinkan – mereka menabur udara dengan kebencian dan kemarahan. Hiruk pikuk dan mampat seperti jalanan macet Jakarta yang tidak bisa dihindari. Mereka mengepungku, mengepungmu, mengepung kita dengan kesigapan yang lindap. Menjadi berbeda adalah kutukan karena anda bukan lagi bagian kelompok. Anda orang luar dan itu bukan hal yang baik, sebab anda akan menjadi musuh yang layak dijatuhkan. Tahun politik selalu menjadi tahun menyebalkan sebab tidak ada lagi kita, tidak ada lagi kemesraan.

“Mas, besok pemilu milih jagoku, ya? Jagoku orang baik, Islam lagi. Jagoku bisa menjamin semua kebutuhan pokok murah. Sekarang apa-apa mahal, kan?” kata juragan kompor tetanggaku yang berafiliasi dengan partai yang Islam banget. Aku pernah dengar partai ini jualan sapi. Di kampungku juragan penjual sapi disebut blantik. Entah dia blantik sapi perah atau sapi potong. Tidak ada penjelasan yang pasti. Tapi setahuku yang namanya blantik pasti kaya.

“Tenang, Mas, ada uang rokoknya kok,” lanjutnya.

Nah, benar kan. Tapi yang terpikir dalam benakku, sebuah kalangan –tempat bertanding besar- bernama Indonesia sedang digelar. Bukan lagi sapi yang bertarung di kalangan itu, melainkan gajah. Bukan lagi blantik sapi di belakang kalangan, tapi blantik gajah dengan duit setebal gaban. Apakah aku, Anda, kalian akan menjadi pelanduk dalam pertarungan gajah tersebut? Kalau kita tidak terinjak dalam pertarungan itu, bersyukurlah. Tapi siapa yang mengendalikan gajah-gajah tersebut? Sebab bisa jadi blantik gajah itu hanya sebuah pion kecil seperti dalam permainan catur. Jadi siapa godfathernya sebab dia pasti bukan lagi sekelas blantik?

Sebuah pesan singkat masuk ke gadget. Ngopi dimana hari ini? Ah, aku rindu suasana hangat penuh keakraban tanpa tendesi apa pun. Kami bisa bercakap hal remeh-temeh tanpa beban. Tidak penting anda berseragam apa, tingkat pendidikan setinggi apa, beragama apa. Kami tidak peduli apa pun, sebab reriungan ini hanya pertemuan biasa yang dilakukan orang-orang biasa.

Kopi

Aku meluncur ke Semesta, kedai kopi yang terletak di sebelah timur jalan Malioboro. Aku terbiasa pergi dari kedai kopi satu ke kedai kopi yang lain. Tamasya warung kopi aku menyebutnya. Beberapa kedai kopi menjadi tempat singgah langganan seperti: Kendi, Bjong, Bento, Gresse, Celoteh, dan Semesta. Kadang tempat terbaik untuk reriungan bukanlah tempat dimana kita harus meletakkan gengsi di atasnya. Tempat menjadi tidak penting untuk sebuah keakraban, bahkan di angkringan pinggir jalan, oke saja. Hanya dengan satu cangkir kopi kita bisa bercakap panjang sampai penjualnya benar-benar lelah menunggu percakapan yang tidak juga usai.

Belum lama aku menjalankan laku warung kopi itu. Bertahun-tahun aku menjalani laku kesunyianku sendiri. Laku diam untuk tidak pergi kemana-mana, laku untuk memahami diri sendiri. Bukan apa-apa, kadang tidak dibutuhkan alasan untuk sebuah ketidakhadiran seperti juga tidak harus ditetapkan tujuan untuk setiap perjalanan. Hanya itu. Sebuah undangan arisan kopi di rumah kontrakan Teguh di Balecatur, pada awal Desember 2016 mengubah laku kesunyianku. Selepas percakapan tidak penting yang menyenangkan, seorang kawan bertanya, besok kita ngopi dimana? Laku tamasya warung kopi dimulai dari situ. Tidak penting aku akan menemukan apa di situ, yang penting kebersamaan hidup kembali di luar kesibukan kita masing-masing.

Sampai di Semesta, Pak Dhe sudah menunggu. Secangkir kopi dengan asap masih mengepul di depannya. Bau kopi robusta menguar bersekutu dengan udara, mengundang aku memesan kopi yang sama. Pagi itu Semesta ramai. Pengunjung menyesaki meja-meja kayu. Di bagian depan atau bawah seperi biasa kelompok jurnalis nongkrong di depan laptop. Sesekali tawa mereka menggoyang pucuk-pucuk daun bambu hias di sela kedai kopi. Tidak jauh dari mereka, seniman corel draw serius di depan laptop mengerjakan desain. Di bagian atas berpasang-pasang kekasih tampak syahdu bercakap. Suaranya lirih. Mungkin mereka sedang membicarakan masa depan. Mungkin.

Tidak lama aku duduk, Teguh datang. “Waras, bung?”

“Waras no…”

“Alhamdulillah….pangestune…”

Menyenangkan bisa bertemu dan tertawa bersama sahabat. Teguh juga memesan secangkir kopi. Kami mulai membicarakan hal-hal tidak penting, hal-hal yang biasa saja. Tidak ada pembicaraan sengkarut politik yang ruwet. Ini cuma percakapan orang biasa tentang hal-hal biasa. Tidak ada yang serius, sebab kami juga tidak pernah bersungguh-sungguh. Aku pikir itu hanya pertautan waktu diantara kawan yang sudah lama tidak bersua. Gojek kere, membicarakan masa lalu, ngrasani konco, membicarakan hal yang remeh-temeh dan menertawakan diri sendiri adalah sebentuk keakraban akan kekangenan masa lalu. Bukankah hanya kenangan yang bisa menyatukan masa lalu dan masa sekarang? Sebab kami pernah di lintasan waktu yang sama saat itu. Ngopi, ngudud bareng, ngrasani konco menjadi ritus sosial kami yang kemudian melebar tidak hanya di teras rumah kontrakan, tapi juga merambah dari warung kopi ke warung kopi yang lain. Rutinitas yang sesungguhnya sudah lama kutinggalkan.

Entah pada perjumpaan ke berapa ketika salah seorang diantara kami tiba-tiba melontarkan gagasan, “Bagaimana kalau kita buat pekerjaan bersama?”

Seketika kami terdiam. Daun-daun ikut terdiam. Beberapa kelompok pengunjung yang asyik dengan percakapan mereka sama sekali tidak terganggu dengan gagasan itu. Di antara lalu lalang tawa dan pembicaraan warung kopi yang tidak jelas, tentu gagasan segila apa pun menjadi hal yang biasa dan tidak menarik diperhatikan. Itu hal biasa. Sebiasa sepasang kekasih di meja sudut yang sedang bercakap nyaris berbisik, seolah gerak bibirnya takut terbaca dan itu akan membongkar sebuah rahasia besar. Rahasia paling rahasia diantara mereka.

“Pekerjaan bersama?” ulangku. Apa?

Pertanyaan itu tenggelam ditimpa percakapan kami yang lain. Kopi dalam cangkir kami segera tandas, asbak menggunung penuh dengan abu dan sisa rokok. Tawa kami bertebaran di mana-mana. Rasanya polusi udara tahun politik hilang. Aku tidak alergi politik. Bukankah setiap orang berpolitik dengan caranya sendiri-sendiri? Bisa jadi pergi ke kedai kopi juga sebentuk tindakan politik yang sangat sederhana. Tapi alangkah indahnya kalau itu dilakukan dengan saling menghargai pilihan, saling menghargai perbedaan karena itu fitrah manusia. Tidak penting apa yang Anda pilih, yang terpenting tetap dalam kebersamaan, tetap dalam kemesraan. Kalau tidak bisa berbuat baik buat mereka, setidaknya jangan melukai orang lain.

Sebentar lagi bangku kayu tempat dimana kami biasa memesrai dan mengakrabi hidup, akan sunyi, hampa beban. Tapi mungkin tidak lama, sebab akan datang orang lain, kelompok lain, memberi beban keakraban dengan tawa. Bangku kayu tersebut tidak pernah lelah menunggu tawa dan asap rokok membalur permukaan kulitnya. Sebab dengan cara itu dia memesrai hidup.

Saat perjalanan pulang, aku mengingatkan pada diriku sendiri: jangan lupa bahagia.