Sebuah Dunia Tanpa Suami 3 - Sakdiah, dkk - PEKKAAda banyak kisah patriotisme di Aceh, mulai dari Tengku Cik Dik Tiro, Laksamana Malahayati, Cut Meutia sampai Cut Nyak Dien yang melegenda. Kita juga pernah mendengar kisah urunan warga Aceh untuk membeli pesawat sebagai dukungan terhadap Indonesia di masa awal kelahiran republik ini. Ratusan warga Aceh memberikan sumbangan berupa emas dan uang untuk pembelian pesawat pertama Indonesia. Patriotisme dan nasionalisme mereka terhadap tanah air tak terbantahkan.

Aceh merupakan propinsi yang unik. Di luar patriotisme dan nasionalisme yang luar biasa, rakyak Aceh juga menggalami peristiwa miris saat pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) mulai tahun 1990. Aceh menjadi daerah yang diisolir dari dunia luar. Aceh benar-benar menjadi daerah yang tertutup bagi pihak luar. Secara psikologis rakyat Aceh, khususnya perempuan, mengalami trauma berkepanjangan dengan pemberlakuan DOM di Aceh. Belum lagi luka itu terobati, pada tahun 2004 tsunami melululantakkan Aceh, menimbulkan luka yang semakin besar. Ketika perjanjian damai di Helsinki ditandatangani pada tahun 2005, rakyak Aceh sedikit bisa menarik napas lega, meski trauma tidak pernah hilang.

Ada banyak kisah besar tentang Aceh. Mengingat sejarah selalu ditulis para pemenang, para penguasa. Sejarah tidak pernah –kalau pun ada- jarang sekali ditulis oleh korban. Sejarah selalu berisi narasi-narasi yang berpihak pada penguasa, sedang suara korban selalu menjadi nyanyi sunyi yang bisu. Tidak pernah terdengar dan dianggap tidak pernah ada. Buku ini merupakan nyanyi sunyi yang bisu, buku ini merupakan narasi-narasi terpinggirkan para pelaku sejarah, khususnya perempuan, yang selama ini dianggap tidak pernah ada. Sebab mereka juga berhak menuliskan sejarah mereka sendiri!

Kisah hidup perempuan, khususnya perempuan kepala keluarga di Aceh, memang penuh haru biru. Derita seolah tak henti membayangi mereka. Hidup dalam kondisi konflik  dan kekerasan bersenjata yang berkepanjangan telah menorehkan luka dan duka yang mendalam di hati mereka. Kehilangan orang terkasih seperti: suami, saudara dan anak, serta trauma dan ketakutan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ketika baru saja mereka perlahan bangkit dari keterpurukan, bencana maha dahsyat -gempa tektonik dan gelombang tsunami di akhir tahun 2004- telah meluluhlantakkan sisa-sisa kebahagiaan yang mereka miliki saat itu. Kehilangan keluarga, sumber penghidupan, dan lingkungan sosial, kembali melemparkan mereka dalam lubang penderitaan yang seolah tak bertepi.

Namun pada saat yang bersamaan, jiwa pejuang dan patriot dalam diri mereka, juga seolah mendapatkan tenaga yang maha kuat, untuk kembali bangkit dan tegak berdiri, lalu secara perlahan namun pasti menata kembali puing-puing hati dan kehidupannya. Semua ini berjalan begitu saja. Tak banyak orang lain yang tahu selain diri mereka sendiri. Penderitaan seolah telah menjadi keseharian sehingga sesama mereka tak ada lagi yang melihatnya sebagai hal istimewa. Simpati dan bantuan memang kemudian mengalir, tetapi semua hanya seperti fatamorgana yang segera sirna dalam kejapan mata. Tidak ada yang mampu menyelami lebih dalam untuk memaknai peristiwa demi peristiwa yang mereka hadapi. Dan juga tidak ada yang menyadari bahwa sebuah sejarah sedang berlangsung, dan perempuan-perempuan ini adalah pelaku sejarah yang menorehkan kisahnya dengan darah dan derai air mata. Tak ingin semua ini hanya menjadi cerita tutur yang kemungkinan akan semakin lamat dan akhirnya menghilang tergilas waktu, maka cerita kesedihan, ketahanan dan kebangkitan itu dituliskan dalam buku ini.

Dengan susah payah, mereka telah berhasil menulis sejarahnya sendiri. Sejarah yang dapat menjadi sumber pengetahuan, kekuatan dan inspirasi dalam kehidupan manusia, khususnya perempuan kepala keluarga dan perempuan pada umumnya. Namun rasa tak sabar untuk melihat kumpulan tulisan ini menjadi buku serial kedua “Sebuah Dunia tanpa Suami” tak segera dapat diwujudkan. Beberapa perempuan yang menuliskan kisahnya ini mengalami kegamangan setelah membaca hasil tulisan mereka sendiri. Mereka bahkan menyesal dan takut karena telah menulis hal-hal yang dianggap sensitif, misalnya yang terkait masa konflik dan keluarga. Mereka khawatir tulisan mereka akan membuat berbagai pihak merasa tidak nyaman, bahkan marah yang akhirnya akan mempengaruhi kehidupan mereka ke depan khususnya dan kedamaian yang sudah mulai terwujud di Aceh. Namun setelah melalui proses diskusi -termasuk meminta saran Komas Perempuan- dan editing ulang untuk mengubah hal-hal yang sensitif tapi tidak mengurangi esensi keseluruhan cerita, akhirnya cerita dan kesaksian mereka sebagai pelaku langsung sejarah sampai ke tangan anda.

Kisah-kisah yang dituliskan perempuan-perempuan ini mengajarkan pada kita tentang ketahanan dan kelenturan emosi dan jiwa yang dimiliki perempuan di akar rumput dalam menghadapi persoalan yang dihadapinya. Hidup dalam situasi yang tidak menentu dan mencekam di masa konflik yang diuraikan dengan fasih oleh perempuan-perempuan Aceh. Pada bagian pertama buku ini, cukup memberikan gambaran betapa sulitnya posisi perempuan seperti mereka yang terjebak dalam peperangan perebutan kekuasaan yang tak berujung. Mereka seolah pelanduk yang berada di tengah-tengah gajah yang sedang bertarung. Salah sedikit saja mereka berujar atau melangkah, akan membuat kehidupan mereka dan mungkin juga orang lain akan menderita sepanjang masa.

Akhirnya, dari “Sebuah Dunia tanpa Suami”, kita kembali belajar arti perjuangan kehidupan menegakkan harkat dan martabat sebagai manusia yang merdeka dan setara dengan manusia lainnya. Buku ini di persembahkan oleh Serikat Perempuan Kepala Keluarga Nanggroe Aceh Darussalam bagi perempuan-perempuan dimana pun berada yang ingin memperjuangkan kehidupan yang penuh kedamaian, keadilan dan bermartabat.

Selamat menjelajahi “Sebuah Dunia tanpa Suami”. Semoga kisah-kisah ini menginspirasi kita semua.


Judul: Sebuah Dunia Tanpa Suami 3

Penulis: Sakdiah, dkk

Penerbit: Pekka

Dimensi: 15×21 cm l 138 hal I 180 gram I soft cover

Harga:


Sebagai penghormatan atas keteguhan, ketahanan, kelenturan emosi dan jiwa Perempuan Kepala Keluarga di Aceh, kami mendedikasikan 50 persen hasil penjualan buku ini untuk dikembalikan pada mereka. Ini merupakan bentuk mendukungan kobuku.com dalam upaya meningkatkan ekonomi para perempuan tangguh di Aceh.